July 17, 2010

Hanya Bagian Pertama


Bulan-bulan belakangan, gw berkesempatan untuk menjadi panitia dalam sebuah program pelatihan kepemimpinan untuk mahasiswa berprestasi se-UI. Alhamdullilah, juang itu telah melahirkan begitu banyak risalah inspiratif dalam goresan perjalanan gw. Ini adalah tulisan yang gw buat di akhir bagian pertama (akan ada bagian yang kedua di tingkat nasional, setelah sebelumnya di tingkat UI, gw sedang mengerjakannya) kepanitiaan tersebut untuk dimuat dalam buletin ILDP. Apa itu ILDP??

Neither a lofty degree of intelligence nor imagination nor both together go to the making of genius. Love, love, love, that is the soul of genius.
_Wolfgang Amadeus Mozart_


Kamis, 15 April 2010 di ruang rapat yang berada di lantai 2 gedung PPMT (Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu), sebuah penemuan kembali telah dimulai bagi definisi sejati dari frase mahasiswa berprestasi (mapres). Di ruang tersebut berlangsung pengarahan oleh tim penyelenggara ILDP kepada para pesertanya, yakni para mapres. Jika selama ini mapres identik dengan mahasiswa ber IPK tinggi dengan segudang prestasi domestik hingga internasional, maka tahun ini, direktorat kemahasiswaan UI mencoba untuk melakukan revolusi paradigmatik dengan meluncurkan program ILDP (Indonesia Leadership Development Program). Program ini menegaskan keniscayaan bahwa seorang mapres dengan segala kualitas dan kompetensi unggulnya, sesungguhnya adalah calon potensial pemimpin masa depan bangsa ini.

Detik ini, 19 Juli 2010 ketika tulisan ini mengada, risalah perjalanan ILDP bagian pertama, yaitu UI program telah sampai pada lembar terakhirnya. Ini adalah sebuah catatan perjalanan yang dalam kerangka reflektif mencoba menghadirkan kembali detik-detik juang itu guna menjadi inspirasi dan renungan bersama.

ILDP disusun dalam sebuah kurikulum yang berorientasi untuk melahirkan pemimpin holistik, tidak hanya kaya akan hard skill, namun juga soft skill yang secara ideologis akan membentuk jiwa dari seorang pemimpin sejati. Pembicara yang akan dihadirkan, serta kegiatan yang akan dijalani oleh para peserta merupakan sebuah rangkaian utuh yang pada akhirnya akan membentuk kepemimpinan tidak hanya-merujuk pada Sigmund freud- sebagai sebuah faktor behavioral tapi juga psiko analisa, di mana kepemimpinan akhirnya mampu terbentuk sebagai sebuah karakter. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya akan mendudukkan peserta di ruang kelas untuk menyerap materi, mereka juga akan diajak untuk belajar langsung pada figur pemimpin yang telah terbukti kepemimpinannya (learning from giants), mengunjungi institusi yang telah dikelola dengan kepemimpinan yang hebat, serta pada akhirnya mentransmisikan kapasitas mereka kepada lingkungannya menjadi sebuah karya nyata.

Soft skill dan hard skill peserta secara koheren mendapat tempaan pada sesi LDTS (Leadership Development Training Series) yang berlangsung rutin setiap sabtu selama berlangsungnya UI Program. LDTS ini terbagi menjadi 2 sesi setiap minggunya, pagi dan siang, soft skill pada sesi pertama dan hard skill pada sesi berikutnya. Dalam sesi pertama yang dipandu oleh bapak arief munandar, peserta diajak untuk mendalami diskursus tentang kepemimpinan sebagai sebuah kapasitas personal yang terdekomposisi menjadi karakter dan pola pikir. Pak arief langsung menekankan secara terang benderang pada LDTS pertama bahwa kepemimpinan tidak pernah berkaitan dengan jabatan formal struktural, namun merupakan laku yang terwujud sebagai manifestasi kualitas diri seseorang. Terjelaskan sudah mengapa harriet tubman bisa membebaskan ribuan budak amerika kulit berwarna pada masa perang sipil, sementara dirinya sendiri juga seorang budak.

Melalui pertemuan-pertemuan berikutnya, konstruksi ini diulas secara lebih tajam dengan aneka pisau analisa. Bang arief memberikan berbagai contoh melalui pengalaman profesional maupun personalnya, bahkan dengan melibatkan dinamika di antara peserta. Misalnya, di kala ada peserta yang mempertanyakan urgensi menonton film pada sebuah sesi LDTS, beliau serta merta menjelaskan tentang pilihan, bahwa mengikuti segenap rangkaian acara merupakan konsekuensi dari pilihan untuk mengikuti ILDP UI Program. Seorang pemimpin harus senantiasa mampu berdamai dengan konsekuensi-konsekuensi tersebut, itulah karakter kepemimpinan sejati. Pelajarannya, jika anda berjumpa dengan orang yang banyak memiliki alasan dan punya sejuta tapi untuk hal yang tidak diharapkannya, maka dapat dipastikan bahwa ia bukanlah pemimpin.

Pada sesi ke 2 LDTS, hadirlah para professional, ahli dan praktisi guna mengelaborasi kemampuan peserta di ranah praxis. Mulai dari andri djarot, bima arya, harsya denni suryo hingga febri diansyah dari teknokrat, birokrat, politisi, aktivis hingga penyiar hadir untuk berbagi cerita dan ilmu.
Di sela pelaksanan LDTS, para peserta diajak pula untuk berguru kepada para pemimpin besar yang sudah teruji kepemimpinannya, inilah learning from giants. Di sini para peserta berkesempatan untuk menyelami kebesaran pribadi mereka sebagai sebuah asupan untuk terus bertumbuh menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya. Beberapa tokoh yang hadir di sini adalah mahfud MD dan anies baswedan.

Tidak hanya kepada figur para pemimpin para mapres yang luar biasa ini berguru, melalui kunjungan ke beberapa institusi, mereka melihat secara nyata ragam tata kelola manajerial di berbagai lembaga. Kondisi manajerial bukanlah kondisi biner yang terbagi oleh garis demarkasi yang jelas, tentu masih diperlukan banyak upaya mengasah kemampuan para peserta ILDP UI Program ke depannya dalam ranah ini, namun kunjungan-kunjungan ini jelas merupakan sebuah awalan. Beberapa institusi yang disambangi oleh para peserta dalam sesi ini di antaranya, kementerian pendidikan nasional (kemendiknas) dan Biro Prencanaan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN).

Bait penghujung sekaligus paling berkesan dalam lantunan simfoni ILDP UI Program ini adalah proyek sosial “Kampung Sehat Produktif” yang mengambil panggung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bantar gebang. Dengan waktu persiapan yang singkat, para peserta berhasil menggalang sebuah gerakan basis yang kontributif (liputannya dapat disimak di bagian lain news letter ini), di tengah beragam rintangan, mereka berjuang, bertahan dan berhasil. Satu lagi pesan pak arief dalam sesi LDTS terbukti, bahwa sesungguhnya seorang pemimpin tiada boleh menyalahkan kondisi eksternal di luar dirinya, “we are what we think”.

Akhirnya, ini hanyalah bagian pertama, dari sebuah kisah yang hingga kini masih terus ditulis kelanjutannya. Bagian kedua, ketiga dan seterusnya, semoga kelak akan tergurat indah dalam ruang peradaban negeri ketika karya-karya besar 36 mapres peserta ILDP UI Program serta semua kepadanya para peserta berbagi mimpi, hadir untuk membawa ibu pertiwi bangkit dari segenap keterpurukannya hari ini.Semoga!

Di ruang rindu, kita bertemu_Letto_

June 08, 2010

Pendidikan, Akselerator Sejati Pembangunan

Meminjam istilah peter drucker di tahun 1966, dunia modern akan berujung pada sebuah era yang disebut era ekonomi pengetahuan (knowledge economic). Pada era itu, diskursus tentang pertumbuhan ekonomi akan mengintegrasikan faktor teknologi sebagai variabel vitalnya. Hari ini, prediksi tersebut terbukti, studi ekonomi kontemporer memasukkan penguasaan teknologi sebagai salah satu pemacu pertumbuhan ekonomi selain kuantitas modal dan tenaga kerja. Hal ini dipicu oleh berkembang pesatnya barang modal berteknologi tinggi serta pembaruan produk dan sistem produksi yang membutuhkan daya adaptasi kemampuan kognitif yang tinggi. Menurut stiglitz, inilah yang memisahkan negara maju dan berkembang, kemampuan untuk mengelola faktor produksi yang berujung pada signifikansi nilai tambah atas proses produksi yang kita lakukan.

Pendidikan, tidak terbantahkan, merupakan instrumen utama untuk melakukan enkulturisasi, pembudayaan menuju bangsa yang lebih beradab, termasuk di dalam proses ini adalah peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuanlah, teknologi akan berkembang, peningkatan ilmu pengetahuan masyarakat pada gilirannya akan merevitalisasi kemampuan penguasaan teknologi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pendidikan merupakan sebuah katalis yang berperan penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Ironisnya ketika pemerintah mampu melakukan realokasi anggaran APBN untuk memuluskan proyek perikanan berbasis konsep minapolitan yang katanya demi kemajuan di sektor ekonomi, anggaran pendidikan mengalami stagnansi pada angka 20% dari anggaran belanja negara. Berdasarkan diskusi dengan wakil menteri, profesor fasli djalal dalam sebuah kesempatan, angka 20% inipun ternyata tidak murni, karena nyaris separuhnya merupakan anggaran gaji guru dan tunjangan profesi.

Menyikapi hal ini, pemerintah harus kembali mengingat narasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 sebagai konsensus bersama dan sumber hukum tertinggi indonesia. Bukan tanpa alasan bila frase mencerdaskan kehidupan bangsa ditempatkan persis setelah memajukan kesejahteraan umum. Pendiri-pendiri bangsa ini, sejak awal telah menyadari betapa pentingnya kecerdasan bangsa yang hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang bermutu. Dengan komitmen untuk mengembangkan pendidikan secara progresif, maka jalan menuju kesejahteraan umum akan terbuka. Pembuatan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) sebagai upaya pelepasan sebagian tanggung jawab negara dan komodifikasi pendidikan-yang pada akhirnya diputus inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi (MK)-menegaskan betapa para pembuat kebijakan telah mengalami disorientasi, tersesat dari konsepsi sejati bangsa tentang pendidikan.

Tidak ada jalan lain, sebuah revolusi paradigmatik harus segera dilakukan, untuk membangun dunia pendidikan secara lebih holistik, bukan hanya sekedar sebagai ruang publik tempat ilmu pengetahuan dipertukarkan, namun lebih dari itu, sebagai sebuah akselerator penting pembangunan dan pertumbuhan. Tentu hal ini hanya mungkin terlaksana dengan political will yang kuat serta termanifestasikan secara nyata dalam segala lini kebijakan pendidikan. Hanya dengan begitu, akan datang waktu bagi generasi penerus untuk “mencairkan” deposito luhur yang telah kita investasikan hari ini, atas nama pendidikan yang memerdekakan, mencerdaskan serta mensejahterakan bagi seluruh rakyat Indonesia.